Aku iri dengan anak-anak yang orang tuanya memberi kebebasan anaknya untuk memilih jalan dan menata masa depannya sendiri. Bahkan aku iri dengan kalian yang punya orang tua, yang tidak pernah tanya kalian mau jadi apa karena mereka percaya sama kalian. Aku tau ini kedengarannya menjadi aku yang tidak tau bersyukur, tidak tau berterima kasih atas nikmat Tuhan yang sudah memberiku orang tua, yang telah membesarkanku dan merawatku dari bayi hingga mendapat gelar sarjana pendidikan.
Kenapa disaat aku sudah menemukan jalan yang tepat menuju impianku, langkah ini malah terhalang oleh ibuku. Aku sangat tidak perduli kalau orang lain, tetangga, saudara, atau siapapun selain ibu yang menjadi penghalangku. Tapi kenyataannya ini ibu aku. Setiap kali aku minta pinjam uang untuk kembali ke Poland tempatku bekerja beberapa tahun lalu sebelum kembali ke sini, itu pun aku kembali karena mama ku jatuh sakit saat musim pandemi. Tapi disaat aku punya waktu untuk kembali, mamaku selalu berusaha tutup telinga setiap kali aku berusaha meminjam uang untuk balik ke Poland. Susah payah aku menunggu moment untuk ke Eropa. Setahun lamanya aku menunggu proses keberangkatan ke Poland saat itu. Aku meminjam uang keluarga, sudah lunas kuganti saat aku masih dii Poland. Tetapi uang yang aku mulai tabung untuk mengumrohkan mama terpaksa aku pakai untuk biaya tiket pesawatku kembali ke Indonesia saat mama sakit.
Selama aku di rumah, aku berusaha mencari uang dengan melalui Tik-Tok. Hasilnya lumayan untuk keperluan bulanannku dan listrik rumah. Tapi mama selalu tidak mengakui hasil jerih payahku. Menurutnya hanya orang yang PNS yang berhasil dan sukses. Beberapa kali aku mohon dimengerti bahwa aku ini tidak mampu untuk menjadi guru. Aku bisa mengajar, tetapi banyak kekurangan dan yang terpenting jiwaku hatiku tubuhku tidak ikhlas menjalaninya. Bagaimana aku bisa berkembang jika aku pun tidak bisa menjiwai dan menekuni profesiku? Bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkan pekerjaanku ketika di hadapan Tuhan nanti?
Beberapa kali aku jelaskan bahwa aku yakin bisa menata masa depanku sendiri tanpa harus jadi guru. Tapi mama seolah-olah menolak untuk mendengar. Kami memang begitu sering berbeda pendapat. Bahkan ketika aku potong poni rambutku, mama selalu komplain dan bilang bahwa waktu muda dia tidak pernah suka yang namanya berponi. Setiap kali aku memilih dan membeli sesuatuu terutama pakaian berwarna hitam, mamaku selalu protes "Ngapain sih beli pakaian warna hitam? Suka banget sama warna gelap? Kayak nggak ada warna lain aja. Aku paling nggak mau pakaian warna hitam dari dulu". Setiap kali aku selalu diam dalam rumah sibuk dengan gadget ku untuk menghasilkan uang, mama ku selalu memarahi karena aku yang tidak mau bersosialisasi, karena aku yang diam-diam saja tidak memikirkan masa depan. Padahal setiap kali aku meminta untuk pinjam uang untuk kembali bekerja ke Poland dia selalu tidak mau tau. Bahkan sebenarnya aku ga harus meminjam uang sama mama, dengan uang yang sudah aku kumpulkan dari Tik-Tok aku bisa membiayai keberangkatanku sendiri. Mama tetap tidak memberi lampu hijau. Terkadang aku lelah. Diusiaku yang sudah 30 tahun ini, aku masih terus disetir di sana sini.
Setiap kali aku menjawab omongan mama, aku selalu dicap anak durhaka yang sudah berpendidikan jadi tidak mau lagi mengurus orang tua. Setiap kali mendegar perkataan itu, hati aku seperti remuk. Membayangkan aku yang terpaksa harus kembali dari Polandia sedangkan aku baru bekerja selama setahun di sana. Eropa yang aku impikan selama ini harus aku tinggalkan sekejap mata. Tetapi dengan mudahnya mama mengeluarkan kata-kata seperti itu. Belum lagi memperhatikan perilakunya yang memprioritaskan sepupu ku daripada aku. Sampai setiap kali aku ungkit semua kesalahan dan keburukan yang dilakukan sepupuku selalu dijawab "ya namanya juga karakter seseorang, harus dipahami, dimaklumi saja." Aku ingin teriak segila-gilanya. Kalau memang upaya bodohku yang tidak bisa dan tidak mau jadi PNS ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan effort sepupu-sepupuku yang melahirkan anak-anak yang lucu untuk mama, kenapa mama tidak biarkan aku pergi mengejar impian dan kehidupanku sendiri? Hingga suatu hari aku di ambang kewarasanku setelah berdebat dengan mama. Pintu aman terkunci. Aku teriak segila-gilanya di dalam kamarku yang sempit.
Saat ini aku sedang berusaha menyelesaikan program studi profesi guru. Lagi-lagi untuk menyenangkan mama. Aku sudah berusaha menolak. Tetapi ketika aku berusaha berbohong mengatakan bahwa aku tidak lulus seleksi, mamaku menangis. Aku menjadi bodoh dan merasa paling bersalah lagi. Anak durhaka. Siklus perasaanku, mood ku selalu berubah-ubah semudah membalikkan telapak tangan. Aku benar-benar depresi. Berpikir bagaimana mengakhiri hidupku yang bukan diriku. Aku juga tidak sepenuhnya menyalahkan mama. Semua ini karena salahku juga yang memberikan harapan sama mama. Seandainya waktu itu aku tidak pernah mengeluarkan kata-kata "Mungkin sekarang saatnya aku coba ikut jadi PNS" dan sontak saja mamaku langsung berharap sampai ke langit. Sekarang aku masih terjebak, dalam kebimbanganku sendiri. Menjalani kuliah profesi guru tetapi setiap malam meraung-raung di kamar kost yang sempit, meratapi impianku yang kandas. Setiap hari memberikan suplemen berupa tontonan di youtube, video-video motivasi untuk mencintai diri sendiri. Sekarang aku sadar, selama ini ilmu yang aku dapatkan masih sangat dangkal. Terbukti dengan ketidakstabilan diriku dalam mengambil langkah dan keputusan untuk kebahagianku sendiri. Selama ini aku labil, tidak berpendirian dan mudah dipengaruhi oleh opini orang lain. Sekarang aku mulai menyadari bahwa selama ini aku terlalu sibuk menanti dan haus validasi dari orang lain. Aku harus berpikir dan menata kembali apa yang benar-benar ingin aku lakukan untuk kebahagiaan dan kemerdekaan hidupku. Satu lagi pelajaran yang paling penting yang aku sadari, jika suatu saat aku menjadi seorang ibu, aku ingin menjadi ibu yang menuntun dan mendukung impian baik dari anakku sesuai dengan kemampuan dan minatnya, karena dia yang menjalani dan merasakan apa yang dijalani.








